HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Sahabat Aetra

KELESTARIAN POHON UNTUK KETERSEDIAAN AIR

  • Posted by admin
  • 26 November 2018

Sahabat, sesuai dengan keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2008, setiap tahunnya pada tanggal 28 November kita memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI). Selain itu, bulan Desember diperingati sebagai bulan Menanam Nasional, dengan tujuan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya pohon bagi kehidupan. Degradasi hutan dan lahan yang disebabkan oleh pembalakan liar, perambahan hutan, pengurangan kawasan hutan (deforestasi) untuk kepentingan pembangunan lain, serta penggunaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi berakibat pada terjadinya bencana banjir, kekeringan dan tanah longsor maupun kontribusi nyata terhadap pemanasan global.

 

Saat ini kerusakan hutan di tanah air cukup memprihatinkan, Indonesia sudah kehilangan jutaan hektar. Penebangan liar telah merajalela selama bertahun-tahun dan diyakini telah menghancurkan sekitar 64 juta hektar hutan selama 50 tahun terakhir. Berdasarkan data FAO tahun 2010 hutan dunia – termasuk di dalamnya hutan Indonesia – secara total menyimpan 289 gigaton karbon dan memegang peranan penting menjaga kestabilan iklim dunia. Sehingga sudah dipastikan jutaan hektar hutan yang dirusak ini akan menimbulkan efek negatif bagi alam, seperti : hilangnya kesuburan tanah, punahnya keaneka ragaman hayati, mengakibatkan banjir, global warming, dan juga turunnya sumber daya air.

 

Biasanya perayaan Hari Menanam Pohon Indonesia diperingati dengan melakukan rehabilitasi hutan yang rusak dan lahan kritis melalui kegiatan menanam pohon oleh masyarakat luas, bersama Kementrian dan komunitas-komunitas peduli lingkungan lainnya.

 

Hutan dan pohon sangat berkontribusi dalam menjaga siklus air. Melalui akar pohon, air diserap kemudian dialirkan ke daun, menguap lalu dilepaskan ke lapisan atmosfer. Ketika pohon-pohon ditebang, daerah tersebut akan menjadi gersang dan tidak ada lagi yang membantu tanah menyerap lebih banyak air. Dengan hilangnya daya serap tanah, hal tersebut akan berimbas pada musim kemarau, di mana dalam tanah tidak ada lagi cadangan air yang seharusnya bisa digunakan pada saat musim kemarau. Hal ini disebabkan karena pohon yang bertindak sebagai tempat penyimpan cadangan air tanah tidak ada lagi sehingga Ini akan berdampak pada terjadinya kekeringan yang berkepanjangan dan juga akan menyebabkan terjadinya penurunan sumber daya air. Semakin sedikit jumlah pohon yang ada di bumi, maka itu berarti kandungan air di udara yang nantinya akan dikembalikan ke tanah dalam bentuk hujan juga sedikit. Nantinya, hal tersebut dapat menyebabkan tanah menjadi kering sehingga sulit bagi tanaman untuk hidup.

Selain itu pohon juga berperan dalam mengurangi tingkat polusi air, yaitu penyaringan dengan semakin berkurangnya jumlah pohon-pohon yang ada di hutan akibat kegiatan deforestasi, maka hutan tidak bisa lagi menjalankan fungsinya dalam menjaga tata letak air.

 

Hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan dalam kegiatan sehari-hari, kita juga bisa melakukan aksi seperti melakukan penghijauan di sekitar tempat tinggal kita. Selain baik untuk sirkulasi udara di rumah dan lingkungan sekitar tempat tinggal, penanaman pohon di sekitar rumah juga baik untuk menjaga ketersediaan dan kelestarian air. Selain itu, menanam pohon juga memiliki banyak manfaat lain seperti; menghasilkan oksigen yang berguna untuk manusia bernafas, menyerap karbon dioksida atau CO2, sumber makanan, dan juga akan mempercantik lingkungan.

 

Demikian juga yang telah dilakukan oleh Aetra Air Jakarta.  Demi menjaga ekosistem alami penunjang air baku, sepanjang saluran Tarum Barat pada tahun 2016 telah ditanami ratusan pohon oleh Aetra Air Jakarta. Aksi penanaman sebanyak 500 jenis pohon itu, dilakukan Aetra Air Jakarta dan Perum Jasa Tirta (PJT) II sebagai bukti mewujudkan aspek konservasi lingkungan saluran air baku.

Sebanyak 500 pohon yang ditanam dalam program ini berupa Pohon Cendana, Kedondong, Petai, Sukun dan Trembesi. Pemilihan pohon ini lebih karena pohon yang memiliki akar kuat dan pohon yang berdaya guna.

 

Sebelumnya pohon kopi juga dipilih Aetra Air Jakarta sebagai jenis pohon yang ditanam pada tanah seluas 22 hektar di area Sunten Jaya, Lembang – Bandung yang berhubungan langsung dengan aliran Sungai Citarum yang merupakan cikal bakal pasokan air baku menuju bendung Jatiluhur,

 

Penanaman pohon yang dilakukan di sepanjang Tarum Barat pada titik Bendung Bekasi, Bendung Cikarang dan Bendung Cibeet sebagai Saluran Terbuka Air Baku yang salah satunya mensuplai kebutuhan air baku Aetra Air Jakarta.

 

Bukan itu saja, program-program penanaman pohon yang dilakukan Aetra Air Jakarta. Penanaman 100 pohon produktif yaitu pohon mangga, rambutan, sirsak, sawo dan jambu air dilakukan di sepanjang kali Jatikramat – Jakarta Timur di tahun 2017. Pada bulan Maret 2018,  Penanaman 100 pohon kembali dilakukan Aetra Jakarta, kali ini berlokasi di Rusun Marunda-Cilincing.

Program kembali ke ekosistem alami dengan penanaman pohon ini merupakan perwujudan pilar tanggungjawab sosial perusahaan, yakni konservasi alam dan lingkungan. Juga mengingat bahwa sungai sebagai pemasok air utama untuk kepentingan air minum/air bersih, air industri dan air irigasi, maka harus terjaga kelestariannya.

 

Tidak ada pembenaran maupun etika untuk membiarkan jutaan pohon lagi hilang dalam waktu 50 tahun ke depan. Mari menjaga kelesetarian pohon untuk ketersediaan air dan kelangsungan hidup kita.