HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Sahabat Aetra

Hari Bebas Emisi, Beri Istrirahat Pada Bumi

  • Posted by admin
  • 18 September 2018

Setiap tahunnya, pada tanggal 21 September, dunia memperingati Hari Bebas Emisi. Pada mulanya, tahun 2008 bulan Maret di Halifax, Nova Scotia – sebuah provinsi di bagian timur Kanada, menyerukan pada dunia untuk menghentikan konsumsi bahan bakar fosil selama satu hari setiap tanggal 21 September. Berlangsung hingga hari ini, Hari Bebas Emisi masih memiliki tujuan untuk memberikan kesempatan pada bumi beristirahat selama satu hari dalam setahun. Tentunya merupakan sebuah pesan yang sederhana namun memiliki makna yang mendalam, karena kita semua tahu bahwa bumi tidak pernah benar-benar 'beristirahat'.

 

Apa yang dimaksud dengan emisi?

Ketika membaca kata emisi, yang terlintas dalam benak sebagian besar dari kita adalah gas pembuangan seperti asap kendaraan, namun emisi sebenarnya tidak hanya berupa gas dan dapat dalam bentuk yang lain, seperti keringat dan radioaktif. Emisi merupakan zat-zat pembuangan yang beracun dan dapat membahayakan makhluk hidup serta mencemari lingkungan.

 

Kenapa emisi berbahaya?

Emisi merupakan polutan sisa pembakaran. Polutan memiliki sifat berbahaya. Secara umum emisi biasanya berupa gas. Gas tersebut menjadi polutan karena menjadi sisa pembakaran/proses yang tidak sempurna sehingga mencemari sifat oksigen yang dibutuhkan manusia dan makhluk lain bahkan ekosistem karena kebanyakan gas/uap buangan pabrik berasal dari bahan bakar fosil yang berbahaya untuk lingkungan. Sumber daya yang terus dieksploitasi hingga hasil pembakaran yang tidak sempurna menghasilkan karbon dioksida dan monoksida yang membahayakan.

 

Apa saja bahaya emisi?

Bahaya emisi yang paling besar, dekat, dan membahayakan untuk kesahatan kita adalah asap kendaraan yang dapat menyebabkan ISPA dan beberapa penyakit lainnya yang berhubungan dengan pernafasan. Faktanya, di Indonesia, kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran udara di perkotaan. Menurut World Bank, dalam kurun waktu 6 tahun sejak 1995 hingga 2001, terdapat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebesar hampir 100%. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk. World Bank menempatkan Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan tertinggi setelah Beijing, New Delhi, Mexico.

 

Emisi Menyebabkan Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca sebenarnya adalah proses yang alami. Atmosfer merupakan lapisan yang dapat menyaring energi radiasi dari luar Bumi, secara khusus dalam hal ini adalah matahari. Radiasi berbahaya yang dipancarkan oleh matahari disaring oleh atmosfer sehingga tidak membahayakan bagi makhluk hidup. Atmosfer Bumi secara alami sudah berfungsi sebagai penjaga suhu bumi. Emisi yang dihasilkan oleh alam sudah cukup untuk membangun keseimbangan ekosistem di Bumi. Kemajuan teknologi dan aktivitas manusia yang akhirnya mengakselerasi bertambahnya gas-gas pembentuk efek rumah kaca.

 

Gas atau uap emisi berasal dari aktivitas agrikultur dan pabrik yang menggunakan bahan bakar fosil. Akselerasi tersebut menimbulkan dampak yang signifikan dalam proses pemanasan global. Gas-gas yang muncul dari aktivitas manusia tersebut tidak dapat dikeluarkan atmosfer sehingga dipantulkan kembali ke bawah atmosfer sehingga hal ini mempercepat peningkatan suhu di bumi yang membuat lapisan es di kedua kutub bumi lebih cepat mencair. Suhu dingin dari es kutub bumi merupakan salah satu faktor terbesar juga dalam menjaga suhu bumi. Apabila lapisan es mencair, airnya akan menambah volume air laut sehingga akan menambah tinggi permukaan laut.

 

Peninggian permukaan laut akan membawa dampak banjir kepada habitat pesisir. Sebagian besar permukaan bumi tertutup dengan air, sehingga bisa saja menenggelamkan pulau berukuran kecil dan mengancam kehidupan. Pemanasan global juga berdampak kepada percepatan penguapan air tanah. Evaporasi yang terlalu cepat dapat mengakibatkan kekeringan karena hujan yang tidak merata. Hujan yang tidak merata dapat memberikan efek jangka panjang kekeringan dan yang paling berbahaya menimbulkan perubahan habitat menjadi gurun atau sebagian wilayah mnegalami kekeringan.

 

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk berpartisipasi dalam Hari Bebas Emisi?

 

1. Gerakan Bike to Work dan berjalan kaki

Jika tidak jauh, bersepeda atau berjalan kaki adalah transportasi yang sebaiknya kita pilih untuk kegiatan sehari-hari. Bersepeda dan berjalan kaki tidak hanyan mengurangi jumlah polutan penyebab polusi tetapi juga membantu kita untuk lebih sehat. Sekarang ini sudah mulai populer gerakan menggunakan sepeda untuk transportasi sehari-hari yang dicanangkan oleh anak-anak muda untuk pergi ke sekolah atau ke kampus maupun ke tempat kerja. Selain tidak menimbulkan polusi udara seperti ketika kita menggunakan kendaraan pribadi, rutin mengayuh sepeda setiap hari baik bagi kesehatan jantung.

 

2.  Menggunakan Transportasi Publik

Apabila menempuh jarak menengah hingga jauh, kita dapat mempergunakan transportasi umum massal, seperti bus trans-jakarta, kereta api, dan sebagainya. Pertimbangannya adalah mengurangi vlume kendaraan dan emisi gas yang dihasilkan setiap hari.

 

3. Mengganti Bahan Bakar Menjadi Biogas

Penggunaan biogas dapat menggantikan penggunaan kayu bakar, maka hal ini dapat melindungi hutan dari penggundulan (deforestasi) sehingga kelestarian hutan dapat terjaga.

 

4. Terakhir, mematikan segala sesuatu yang tidak digunakan.

Seperti mematikan televisi, AC, komputer, dan segala perangkat elektronik ketika tidak sedang digunakan.