HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Sahabat Aetra

Dampak Eksploitasi Air Tanah di Jakarta

  • Posted by admin
  • 31 January 2018

Sahabat Aetra, tidak dapat dipungkiri bahwa percepatan pertumbuhan penduduk di kota Jakarta akan memiliki dampak langsung pada tingginya kebutuhan air bersih. Karena tuntutan tersebut, permintaan air tanah sebagai sumber air juga ikut mengalami peningkatan. Hal ini memberi konsekuensi pada keseimbangan ekologi, baik secara kualitatif yaitu penurunan mutu air tanah dan secara kuantitatif berupa cadangan air tanah di Jakarta semakin tahun semakin berkurang.

 

Kebutuhan air bersih di DKI per tahun mencapai angka 547,5 juta meter kubik sementara pasokan yang dapat terpenuhi hanya sebesar 296,65 juta meter kubik atau sekitar 54%. Air tanah kemudian dieksploitasi untuk pemenuhan kebutuhan tersebut. Eksploitasi yang begitu besar mengakibatkan adanya ketidak seimbangan antara pengambilan dan pemulihan air tanah. Penyedotan air tanah di DKI Jakarta diperkirakan mencapai 251,8 juta meter kubik, melebihi batas aman sekitar 186,2 juta meter kubik. Defisit yang sebegitu besar sekitar 66,6 juta meter kubik ini masih bisa bertambah pada musim kemarau atau saat terjadi proyek pembangunan dan industri yang skalanya besar. Akibatnya terjadi kekosongan air pada tanah yang kemudian menyebabkan terjadinya intrusi dan amblesnya tanah. Secara kualitas pun air tanah sudah banyak tercemar, baik karena kadar pencemar organik ataupun anorganik yang tinggi, sehingga tidak layak digunakan untuk konsumsi.

 

Contoh nyata akibat eksploitasi air tanah di Jakarta seperti telah dijelaskan di atas adalah sebagai berikut:

  1. Penurunan 3 – 5 cm pada permukaan tanah yang berpotensi menurun hingga 60 – 100 cm dalam rentang 25 tahun mendatang, menyebabkan sebagian wilayah Jakarta, terutama Jakarta Utara terendam air laut.
  2. Amblesnya permukaan tanah yang pernah terjadi di sekitar Jl. RE Martadinata dan kemiringan beberapa bangunan di Jakarta Utara (sekitar Pluit dan Sunter) atau di Gedung BBPT dan Sarinah.
  3. Air laut merembes masuk dan mengisi kekosongan air (intrusi), dari Teluk Jakarta sampai menjangkau Monas. Bahkan intrusi air laut hampir merata di wilayah radius 10-15 kilometer di Ibu kota,  mulai daerah Kebon Jeruk, hingga Setiabudi, Kebayoran Baru, Cengkareng, dan Senen. Intrusi meningkat daripada 20 tahun lalu dimana daratan yang terkena intrusi air laut baru sekitar dua kilometer dari garis pantai.
  4. Tingkat permukaan air yang sudah meningkat jauh hingga menyentuh kontruksi jembatan seperti di Kamal Muara, Mangga Dua, Ancol, Pluit, Pantai Mutiara, Gunung Sahari, dan Mangga Besar.

 

Melihat dampak yang sudah terjadi dan mempertimbangkan kebutuhan air di masa depan, penggunaan air tanah perlu dikurangi, atau bahkan di stop. Masih ada alternatif sumber air bersih lainnya berupa air perpipaan seperti air Aetra yang ramah lingkungan. Aetra tidak menggunakan air tanah atau mata air sebagai air bakunya, melainkan menggunakan air permukaan, alias air sungai, yang diterima dari Waduk Jatiluhur melalui Kalimalang, Jakarta Timur. Air yang masuk ke Jatiluhur adalah air dari Sungai Citarum, Jawa Barat.

 

Tidak hanya ramah lingkungan, air produksi Aetra pun terjamin kualitasnya dan diproses sesuai Permenkes No. 492/Menkes/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum. Air Aetra mengandung desinfektan untuk membunuh bakteri dan virus pathogen seperti E-coli dan Salmonella penyebab penyakit Diare, Muntaber, Kolera, Typhus dan Disentri. Ingat sahabat, air tanah walau terlihat bersih, bening dan tidak berbau belum tentu aman dan higienis untuk dikonsumsi.

 

Ingin keluarga anda terjamin kesehatannya sekaligus berkontribusi dalam pelestarian Kota Jakarta? Yuk beralih ke Air Aetra