HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Sahabat Aetra

Hari Bumi, Krisis Air Bersih dan Upaya Menanggulanginya

  • Posted by admin
  • 2 May 2017

Bumi dengan segala keunikan dan kelebihan yang dimilikinya dapat memenuhi kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya untuk bertahan dari jaman ke jaman. Selama jutaan tahun, bumi telah mengalami perubahan berbagai kondisi hingga menjadi tempat yang memberikan banyak manfaat bagi kita sampai detik ini. Dengan kekayaan alam yang cuma-cuma membuat manusia sedikit lalai karena menganggap bumi dapat memperbaiki dirinya sendiri.

Sebagai pengingat dan meningkatkan kesadaran manusia terhadap kondisi bumi yang semakin tua dan tidak seasri dulu, untuk pertama kalinya pada tahun 1970, seorang Senator dari Amerika Serikat, Gaylord Nelson mendeklarasikan 22 April sebagai Hari Bumi Sedunia. Gaylord Nelson merupakan seorang pengajar di bidang disiplin ilmu lingkungan hidup. Semenjak saat itu, mulailah terlahir Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM ) maupun aktivis dunia yang fokus terhadap kesehatan bumi dan kelestarian lingkungan.

Di Indonesia sendiri, Hari Bumi awalnya diprakarsai oleh masyarakat serta diperingati oleh LSM dan organisasi di bidang pelestarian lingkungan hidup dengan tujuan untuk merangsang kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup yang semakin hari semakin rusak. Kerusakan lingkungan disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampak negatifnya pun akan dirasakan oleh manusia juga. Upaya untuk melestarikan lingkungan hidup tidak hanya tanggung jawab perorangan saja, akan tetapi tanggung jawab dari semua pihak yang hidup di bumi ini. Berbagai kerusakan lingkungan hidup di bumi menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup juga mengakibatkan berbagai bencana alam seperti longsor, banjir, angin topan, kekeringan, kebakaran hutan serta krisis air bersih.

Krisis air bersih terjadi di seluruh dunia dan mengancam kesehatan miliaran penduduk bumi. Salah satu contohnya adalah di Sao Paulo, Brazil. Pada tahun 2013-2014, Sao Paulo mengalami penurunan jumlah air tawar yang dapat dikonsumsi dikarenakan kekeringan, karena menurut NASA Earth Observatory, wilayah ini hanya menerima setengah jumlah curah hujan dari seharusnya. Selain karena berkurangnya curah hujan dan perubahan pola cuaca, bendungan terbesar di Sao Paulopun tidak bisa banyak diharapkan karena telah berpuluh-puluh tahun tercemar dengan sampah dan limbah rumah tangga.

Selain Sao Paulo adapula Kuwait yang mengalami kelangkaan air bersih. Pada awalnya, menurut sebuah studi, sebanyak 73,5% sumber air Kuwait berasal dari air laut yang dijernihkan. Saat ini negara kecil yang terapit antara Irak dan Arab Saudi ini sudah mengalami krisis air, karena instalasi yang ada tidak memadai. Desalinisasi air laut yang menelan biaya besar hingga kini masih menjadi satu-satunya solusi kelangkaan air di negara-negara teluk.

Menengok ke negeri sendiri, krisis air bersih juga melanda sebagian wilayah di Indonesia, misalnya yang terjadi pada kondisi air tanah di Jakarta. Kondisi air tanah di ibu kota sudah tidak aman baik dari kuantitas maupun kualitas. Secara kualitas, hampir sebagian besar air tanah di Jakarta sudah tercemar Bakteri E-coli. Kepadatan perumahan dan pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadi penyebab karena limbah rumah tangga menyumbang pencemaran terbesar terhadap air tanah.
Selain kualitas air tanah yang tidak layak konsumsi, ada bahaya lain yang lebih besar mengintai. Penggunaan air tanah secara berlebihan akibat meningkatnya jumlah penduduk, aktivitas ekonomi dan industri dapat menurunkan permukaan tanah sehingga permukaan tanah Jakarta menjadi ambles dan memperbesar peluang terjadinya intrusi air laut ke daratan. Jakarta adalah salah satu dari kota-kota besar di dunia seperti Shanghai, Bangkok, Meksiko, Mumbai dan Venesia yang terancam tenggelam.

Bagi Warga Jakarta, belum terlambat untuk menyelamatkan lingkungan. Tindakan nyata paling mudah namun bijak yang dapat dilakukan yaitu dengan tidak membuang limbah rumah tangga di sekitar rumah maupun pada sumber air, mengurangi penggunaan air tanah secara berlebihan dan beralih menggunakan air perpipaan seperti air Aetra.

Aetra sebagai partner PAM Jaya dan Pemprov DKI Jakarta hadir sebagai solusi dalam menyediakan air bersih sesuai standar PERMENKES untuk penduduk di wilayah Timur Jakarta (sebagian Jakarta Utara, sebagian Jakarta Pusat & seluruh Jakarta Timur). Per Maret 2017, Aetra sudah melayani 3 juta jiwa dari total penduduk di wilayah Aetra sebesar 4,970,177 penduduk (cakupan layanan mencapai 61,04%). Untuk mensuplai air bersih tanpa merusak lingkungan kota Jakarta, Aetra tidak menggunakan air tanah atau mata air sebagai air bakunya, melainkan menggunakan air permukaan, yaitu dari air sungai Citarum, yang dialirkan dari Waduk Jatiluhur kemudian menuju Kalimalang, Jakarta Timur. Semakin banyak warga Jakarta yang mulai beralih menggunakan air perpipaan, dapat ikut berkontribusi mencegah penurunan permukaan tanah di ibu kota yang terus meningkat dari 5-6 cm menjadi 10-11 cm per tahun.

Dengan demikian, menggunakan air Aetra adalah salah satu bentuk langkah yang bijak dalam menyelamatkan ketersediaan air tanah, kelestarian lingkungan Jakarta dan pada akhirnya akan berkontribusi lebih jauh lagi untuk menjaga keberlangsungan bumi kita. Stop penggunaan air tanah sekarang juga, untuk generasi masa depan kita. Sebuah pepatah mengatakan bahwa, bumi ini bukanlah warisan nenek moyang, melainkan titipan dari anak cucu kita.

----