HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Sahabat Aetra

Kemarau Panjang Datang, Mari Terapkan Gaya Hidup Peduli Air !

  • Posted by admin
  • 22 August 2019

Peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG terkait bencana kekeringan yang akan terjadi di wilayah Banten dan DKI, tentunya menyadarkan kita untuk segera mengantisipasi dan merubah perilaku dalam pemakaian air.

 

Meskipun bencana kekeringan telah disuarakan sebagai peringatan bagi masyarakat,  Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta menyatakan belum menemukan gelagat adanya bencana kekeringan di Ibukota DKI Jakarta.  Dinas SDA DKI Jakarta menyatakan bahwa hingga saat ini pasokan air utamanya air perpipaan untuk warga masih normal.   Bapak Juaini Yusuf selaku Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta menyatakan pihaknya belum mendapatkan laporan adanya kekurangan pasokan air dari PD PAM Jaya maupun Palyja dan Aetra sebagai imbas dari musim kemarau. Menurutnya, debit air bendungan Jatiluhur memang telah berkurang, tapi belum sampai mempengaruhi pasokan air perusahaan penyedia air bersih.

 

Kondisi amannya pasokan air perpipaan selama musim kemarau, tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi para pelanggan Aetra Air Jakarta. Meskipun kemarau panjang menghadang, secara kualitas dan kontinuitas pasokan air tetap dapat dinikmati dengan stabil.

 

Meskipun demikian, tentu kita juga tetap harus Bijak dalam menggunakan air dalam keseharian. Bijak dalam menggunakan air di keseharian bisa kita pelajari dari perilaku masyarakat negara-negara maju, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan air bersih.  Seperti halnya di Jepang yang dikenal dengan pemandian onsen-nya, dimana air di bak mandi yang telah digunakan untuk berendam tidak dibuang melainkan digunakan untuk membersihkan lantai, menyiram tanaman,dll. Hal ini dilakukan sebagai pengelolaan penggunaan air dalam keseharian.

 

Pasokan air yang tidak terganggu di musim kemarau sejatinya juga tidak mengurangi niat kita untuk meningkatkan kepedulian lingkungan dan melatih diri dan keluarga untuk bijak dalam mengelola pemakaian air. Hal ini bisa dimulai dengan melakukan hal-hal kecil dalam keseharian seperti menutup rapat kran air setelah digunakan, menguras bak mandi kotor dengan tidak membuang airnya melainkan menampungnya untuk kegiatan lainnya seperti menyiram tanaman, memandikan binatang kesayangan, menyiram closet, mencuci mobil, mencuci sepeda motor, mencuci sepeda, perkakas rumah, dll. Begitu juga dengan para ibu yang memiliki bayi dan balita, air bekas memandikan bayi dan balita ada baiknya tidak dibuang melainkan dapat dipakai untuk merendam tas, merendam sepatu, merendam tirai/korden, bunga kering, dll karena dengan bantuan kandungan lembut dalam sabun bayi tentunya tidak akan merusak warna barang tersebut.

 

Sahabat, ada hal lain lagi yang menarik dilakukan dalam mengelola pemakaian keseharian air yang selama ini mungkin tidak kita sadari. Bagi kita yang beragama Muslim, saat kita berwudhu sebenarnya merupakan air bersih yang jika dialirkan begitu saja. Tentu aliran air bersih yang dibiarkan ini akan menjadi mubazir karena air seharusnya masih bisa dimanfaatkan, misalnya untuk membilas pakaian, mengisi kolam ikan, dll.

 

Kelangkaan air di musim kemarau yang panjang saat ini sepatutnya tidak menghalangi kita untuk tetap memperhatikan kesehatan dan kebersihan lingkungan dengan membatasi pemakaian air. Kondisi ini seharusnya justru menjadikan kita dapat bertindak semakin lebih kreatif dalam mengelola pemakaian air dan menerapkan Gaya hidup Peduli Air. Sebaiknya gaya hidup peduli air mulai diterapkan tidak hanya karena musim kemarau ya Sahabat, karena sumber daya air di bumi bukan tidak terbatas.

 

Sekecil apapun perubahan yang kamu lakukan akan bermanfaat bagi kelestarian air dan masa depan anak cucu kita.             

 

Every drop count, Sahabat! J