HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Sahabat Aetra

Langkah Utama Pencegahan Penyakit Bawaan Air

  • Posted by admin
  • 3 August 2016

Sahabat Aetra, tahukah kamu bahwa salah satu dampak mematikan dari suatu penyakit dapat berasal dari akses air yang buruk ?

 

Waterborne Dissease adalah sebutan bagi penyakit yang ditularkan melalui air yang tercemar/terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen. Penyakit yang mematikan akibat  air bersih yang terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen antara lain adalah  diare, kolera, disentri dan thypus.  Menurut data yang dirilis badan perlindungan anak dunia (UNICEF) sedikitnya satu anak di dunia meninggal tiap 21 detik pada 2012 akibat penyakit yang ditularkan melalui air/bawaan air. Jumlah tersebut relatif mengalami penurunan jika dibandingkan pada 2009 yang mencapai angka kematian anak setiap 15 detik dengan penyebab yang sama yaitu penyakit diare.  

 

Bagaimana dengan di Indonesia? Penduduk Indonesia masih sulit terbebas dari penyakit diare, kolera, disentri dan tifus. Hal ini karena akses air bersih kita yang masih terbatas. Menurut UNICEF dan WHO, Indonesia adalah salah satu kelompok dari 10 negara yang hampir dua–pertiga dari populasinya tidak mempunyai akses ke sumber air minum.  Hingga saat ini, baru 29 persen masyarakat Indonesia yang dapat mengakses air bersih melalui perpipaan. Air minum perpipaan adalah air minum yang diolah sesuai standar Kementrian Kesehatan RI, yang umumnya disuplai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di seluruh Indonesia Jumlah ini sangat jauh di bawah target pemerintah untuk tahun 2019, yaitu sebesar 60 persen.  Sementara, air tanah, yang menjadi alternatif bagi area yang tidak terlayani oleh jaringan perpipaan PDAM,  kualitasnya pun  terus  mengalami penurunan yang memprihatinkan. Oleh karena itu, dengan sedikitnya akses air bersih, sulit bagi kita untuk membebaskan masyarakat dari  penyakit-penyakit yang disebabkan oleh air yang terkontaminasi mikroorganisme patogen tersebut.  

 

Selain mengandung bakteri patogen dan virus penyakit,  air yang  dikonsumsi oleh masyarakat juga dapat terkontaminasi oleh  limbah domestik dan limbah industri . Limbah limbah yang terlarut dalam air tanah tersebut membawa zat-zat kimia yang bersifat racun terhadap tubuh manusia seperti logam berat, pestisida, senyawa polutan hidrokarbon, zat-zat radio aktif alami atau buatan dan lain sebagainya.  Zat-zat berbahaya yang terkandung dalam air tersebut tidak teraba maupun kasat mata. Bahkan, setelah dipanaskan 100 derajat celcius pun zat kimia didalam air cenderung tidak hilang. Sebab pemanasan hanya mematikan bakteri atau kuman.  Oleh karena itu, kualitas air tanah tak bisa terjamin  hanya dengan cara melihat secara kasat mata,  melainkan harus melalui uji laboratorium.

Dengan kondisi air tanah yang tidak bisa dijamin kualitasnya/bebas dari kontaminasi, maka masyarakat disarankan beralih ke air perpipaan dan memakai air tanah hanya sebagai cadangan. Air perpipaan yang kualitasnya lebih baik daripada air tanah diharapkan dapat menekan jumlah angka waterborne dissease. WHO menyebutkan bahwa sanitasi yang baik dan konsumsi air minum yang bersih adalah cara efektif mengurangi resiko terjadinya diare hingga 94%. 

 

Mengapa air perpipaan lebih terjamin kualitasnya? Salah satu contoh adalah Air dari PT Aetra Air Jakarta, adalah karena:

  •  Pertama, untuk air bakunya, Aetra tidak mengambil air tanah, melainkan mengambil air permukaan yang  berasal dari Waduk Jatiluhur yang airnya berasal dari air permukaan yaitu air Sungai Citarum. Waduk Jatiluhur ini  dikelola oleh Perum Jasa Tirta II (PJT II).
  • Kedua, proses pengolahan air baku menjadi air bersihnya pun melalui berbagai tahap pengolahan ketat sesuai  standar Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 versi 2008 untuk manajemen operasional suplai air serta OHSAS 18001:2007 untuk bidang Operasi dan Manajemen Instalasi Pengolahan Air dan Manajemen Proyek
  •  Ketiga, air Aetra mengandung disinfektan yang efektif membunuh kuman penyebab penyakit
  • Air produksi Aetra memenuhi standar air minum sesuai Permenkes RI no 492/2010 mengenai Persyaratan Kualitas Air Minum

 

Adalah suatu langkah bijak untuk mengkonsumsi air yang produksinya memenuhi standar kualitas air minum,  serta ramah lingkungan karena menggunakan air permukaan, bukan air tanah atau mata air sebagai air bakunya.  Aetra mengambil air baku dari  Bendungan Jatiluhur yang mengalir hingga ke Kalimalang, di Jakarta Timur.  Di Kalimalang ini terdapat titik pengambilan air baku ( intake)  untuk  Instalasi Pengolahan Air (IPA)  Aetra di  Buaran serta IPA Pulogadung.

 Air baku yang masuk ke  IPA Aetra, seperti IPA Buaran, menjalani  dua kali saringan untuk mengatasi sampah, yaitu di Intake (saluran masuk), dan satu lagi di mixing sebelum air masuk ke sistem sedimentasi. Selanjutnya adalah proses mengurai (oksidasi) bahan yang beracun yang berbahaya dengan membubuhkan cairan chlorine. Setelah itu, adalah proses flokulasi dan sedimentasi untuk memungkinkan  kotoran yang tersisa di dalam air  membentuk flok dan mengendap menjadi lumpur di dalam kolam sedimentasi (pulsator) sehingga Aetra mendapatkan air bersih pada bagian atas endapan tersebut.   Kemudian, Air bersih tersebut dialirkan menuju reservoir lalu ditambahkan cairan Chlorine untuk membunuh bakteri serta memastikan masih terdapat kandungan chlorine yang cukup ketika air sampai di jaringan hingga ke konsumen.

 

Proses klorinasi adalah proses penting yang dapat membunuh bakteri patogen dan virus berbahaya (E.Coli, Salmonella penyebab penyakit Diaere, Kolera, Muntaber, Thypus, Disentri) serta  mengoksidasi bahan-bahan kimia dalam air.  Klorin yang digunakan oleh Aetra sesuai dengan takaran yang aman dengan standar WHO dan Departemen Kesehatan RI.  

 

Dengan semakin banyak masyarakat, khususnya  Kota Jakarta  yang  mengunakan  air bersih perpipaan, maka  bukan saja dapat mencegah waterborne deseases, melainkan juga dapat menyelamatkan Kota Jakarta dari bahaya lingkungan akibat penggunaan air tanah atau air minum yang menggunakan air tanah atau mata air sebagai bahan bakunya.  

 

Sumber : Media Indonesia, www.unicef.org/indonesia,

www.depkes.go.id

kompas.com