HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Berita

PT. Aetra Air Jakarta Implementasikan Persyaratan Halal Assurance System (HAS)23000

  • Posted by Aetra
  • 19 May 2019

Memproduksi produk halal adalah bagian dari tanggungjawab sebuah perusahaan kepada konsumen, khususnya konsumen Muslim. Di Indonesia, untuk memberikan keyakinan kepada konsumen bahwa produk yang dikonsumsi adalah halal, maka sebuah perusahaan perlu memiliki Sertifikasi Halal MUI. Sertifikat Halal adalah fatwa dari Majelis Ulama Indonesia mengenai status kehalalalan sebuah produk. Sebelum fatwa tersebut diterbitkan, maka tim auditor dari LPPOM MUI akan memeriksa sistem manajemen halal perusahaan. Sistem tersebut merujuk pada Sistem Jaminan Halal / Halal Assurance System 23000 yang diterbitkan LPPOM MUI.

 

Sejak tanggal 02 Mei 2019, PT. Aetra Air Jakarta mulai mengimplementasikan Halal Assurance System (HAS) 23000 terhadap produk air minum yang dihasilkan dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran, IPA Pulogadung dan Pusat Distribusi Cilincing (Cilincing Distribution Center /CDC) sebagai persyaratan Jaminan Sertifikasi Halal. Dengan diimplementasikannya Sistem Jaminan Halal  (HAS) 23000, maka Aetra Air Jakarta menjamin bahwa seluruh Bahan/material, Fasilitas Produksi dan Produk yang dihasilkan melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran, IPA Pulogadung dan Pusat Distribusi Cilincing (Cilincing Distribution Center /CDC) terjamin kehalalannya dan terbebas dari kontaminasi bahan yang tidak halal.

Halal Assurance System atau (HAS) 23000 adalah dokumen yang berisi persyaratan sertifikasi halal LPPOM MUI. Bagi perusahaan yang ingin mendaftarkan sertifikasi halal ke LPPOM MUI; baik industri pengolahan (pangan, obat, kosmetika), Rumah Potong Hewan (RPH), restoran, katering, dapur, harus memenuhi persyaratan sertifikasi halal yang tertuang dalam dokumen HAS 23000 tersebut.

Sertifikat Jaminan Halal (HAS) 23000 berisi 11 komponen yang diharuskan oleh LPPOM MUI. 11 komponen tersebut adalah :

  1. Adanya bukti tertulis mengenai komitmen dari Manajemen Puncak. Hal tersebut berupa Kebijakan yang ditetapkan oleh Manajemen Puncak dan mensosialisasikan kebijakan halal kepada seluruh pemangku kepentingan (stake holder) perusahaan.
  2. Dibentuknya Tim Manajemen Halal. Manajemen Puncak harus menetapkan Tim Manajemen Halal yang mencakup semua bagian yang terlibat dalam aktivitas kritis serta memiliki tugas, tanggungjawab dan wewenang yang jelas.
  3. Adanya Prosedur dan Pelaksanaan Pelatihan. Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis pelaksanaan pelatihan. Pelatihan internal harus dilaksanakan minimal setahun sekali dan pelatihan eksternal harus dilaksanakan minimal dua tahun sekali.
  4. Bahan/material yang digunakan dalam pembuatan produk yang disertifikasi tidak boleh berasal dari bahan haram atau najis. Perusahaan harus mempunyai dokumen pendukung untuk semua bahan yang digunakan, kecuali bahan tidak kritis atau bahan yang dibeli secara retail.
  5. Sarana produksi yang dipakai dipersyaratkan tidak haram. Karakteristik/profil sensori produk tidak boleh memiliki kecenderungan bau atau rasa yang mengarah kepada produk haram atau yang telah dinyatakan haram berdasarkan fatwa MUI.
  6. Merk/nama produk yang didaftarkan untuk disertifikasi tidak boleh menggunakan nama yang mengarah pada sesuatu yang diharamkan atau ibadah yang tidak sesuai dengan syariah Islam.Produk pangan eceran (retail) dengan merk sama yang beredar di Indonesia harus didaftarkan seluruhnya untuk sertifikasi, tidak boleh jika hanya didaftarkan sebagian.
  7. Adanya Prosedur tertulis pelaksanaan kegiatan kritis. Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis mengenai pelaksanaan aktivitas kritis, yaitu aktivitas pada rantai produksi yang dapat mempengaruhi status kehalalan produk. Aktivitas kritis dapat mencakup seleksi bahan baru, pembelian bahan, pemeriksaan bahan datang, formulasi produk, produksi, pencucian fasilitas produksi dan peralatan pembantu, penyimpanan dan penanganan bahan dan produk, transportasi, pemajangan (display), aturan pengunjung, penentuan menu, pemingsanan, penyembelihan, disesuaikan dengan proses bisnis perusahaan (industri pengolahan, RPH, restoran/katering/dapur). Prosedur tertulis aktivitas kritis dapat dibuat terintegrasi dengan prosedur sistem yang lain.
  8. Adanya Prosedur tertulis mengenai pengendalian produk tidak sesuai. Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis untuk menangani produk yang tidak memenuhi kriteria, yaitu tidak dijual ke konsumen yang mempersyaratkan produk halal dan jika terlanjur dijual maka harus ditarik.
  9. Adanya Prosedur tertulis kemampuan telusur. Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis untuk menjamin kemampuan telusur produk yang disertifikasi berasal dari bahan yang memenuhi kriteria (disetujui LPPOM MUI) dan diproduksi di fasilitas produksi yang memenuhi kriteria (bebas dari bahan babi/ turunannya).
  10. Dilaksanakannya Audit Internal. Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis audit internal pelaksanaan SJH. Audit internal dilakukan setidaknya enam bulan sekali dan dilaksanakan oleh auditor halal internal yang kompeten dan independen. Hasil audit internal disampaikan ke LPPOM MUI dalam bentuk laporan berkala setiap 6 (enam) bulan sekali.
  11. Dilaksanakannya Kajian Manajemen. Manajemen Puncak atau wakilnya harus melakukan kaji ulang manajemen minimal satu kali dalam satu tahun, dengan tujuan untuk menilai efektifitas penerapan SJH dan merumuskan perbaikan berkelanjutan

 

Meskipun harus melalui proses tahapan panjang, Manajemen PT. Aetra Air Jakarta konsisten untuk mengikuti setiap proses persyaratan Sertifikasi Halal sebagai bentuk tanggungjawab terhadap pelanggan dan masyarakat DKI Jakarta yang menggunakan air bersih produksinya, dan tidak lain agar mereka merasa yakin bahwa air yang dikonsumsi pelanggan dan masyarakat aman bagi kesehatan dan aman kehalalannya.

 

Dengan adanya komitmen perbaikan berkelanjutan ini, maka bukan saja telah memenuhi standar PERMENKES Republik Indonesia, tetapi PT. Aetra Air Jakarta sebagai penyedia air bersih bagi sebagian besar warga DKI Jakarta juga berkomitmen untuk melengkapi  Sertifikasi Jaminan Halal sebagai jaminan kualitas produksi air bersihnya.  Hal ini semakin membuktikan komitmen Aetra Air Jakarta untuk selalu meningkatkan layanan kepada para pelanggan dan masyarakat.