HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Berita

Aetra Selamatkan 5.000.000 m3 Air Bersih Dalam illegal Sweeping Pelanggaran Pemakaian Air

  • Posted by Aetra
  • 24 October 2017

Wilayah Jakarta Utara sangat bergantung pada air perpipaan, yang antara lain diperkirakan karena   intrusi air laut ke daratan telah membuat  masyarakat tak memiliki sumber air lain. Hal ini mendorong sebagian orang  menggunakan air perpipaan secara melanggar hukum. Oleh karena itu PT Aetra Air Jakarta terus melakukan peningkatan  illegal sweeping untuk memberantas aktivitas pemakaian air  illegal sejak tiga tahun terakhir. Upaya tersebut telah menyelamatkan lebih dari 5.000.000 meter kubik air bersih.


“Jumlah tersebut  kurang lebih setara dengan konsumsi bagi 1.000.000 juta penduduk setiap hari selama 1 bulan.  Upaya  penyelamatan tersebut  tercapai tak lepas dari kinerja Tim Terpadu yang merupakan sinergi internal dan eksternal, termasuk  PAM Jaya, kepolisian RI dan masyarakat, ” ujar Junaedi Tamam, Manager Departemen  Anti-Ilegal Enforcement  (IED) SBU Utara, yang didampingi oleh Danny Leonardo, penyelia pada Departemen (IED) di ruang kerjanya, baru baru ini.  


Penyelamatan tersebut merupakan hasil dari illegal sweeping (penyisiran) terhadap 96.088 properti dan telah menemukan 3.208 temuan aktivitas illegal, baik temuan konsumsi tidak resmi maupun temuan sambungan tidak resmi.  Ini merupakan hasil pekerjaan yang  ditekuni bertahun tahun, bahkan tak jarang terjadi ancaman fisik akibat benturan kepentingan.  
Lebih jauh, Junaedi menjelaskan bahwa secara eksternal Aetra telah membuat joint investigation bersama PAM Jaya, di samping itu  menandatangani Kesepakatan Kerjasama antara PAM Jaya- Aetra- Kepolisian Resort Jakarta Utara untuk perkuatan illegal sweeping  dalam pemberantasan aktivitas illegal di lapangan.

Foto :  Rapat Koordinasi Aetra dengan Aparat Polres Jakut

 

TERBESAR

Capaian terbesar dari sinergitas sejauh ini adalah penemuan dan penyelesaian kasus pemakaian air secara illegal  tanpa meter air yang diperkirakan telah berlangsung sejak tahun 1960an yang ditemukan di salah satu institusi publik di Jakarta Utara. “Bayangkan, berapa air yang digunakan secara illegal selama itu,” ujar Junaedi.  Tentu saja, jelasnya, ketika menemukan hal tersebut, Aetra tidak bisa langsung menindak, karena persoalan yang menyangkut kelembagaan publik.

“Namun, dengan komunikasi yang terbuka, dengan pendekatan antar-institusi yang baik akhirnya permasalahan ini selesai sesuai dengan regulasi yang berlaku. Dalam kasus ini Aetra  kehilangan air sebesar  4,1 juta m3, dan mereka pun kini telah resmi menjadi pelanggan Aetra dengan tingkat konsumsi air mencapai 6000 hingga 8000 m3 per bulan,” jelasnya.

Hal seperti ini, yang terkait antar-institusi, ujar Junaedi memang jarang terjadi. “Namun, ini tergolong  tantangan terbesar yang dihadapi oleh Aetra, karena jenjang penyelesaiannya yang tidak mudah, butuh waktu dan pemahaman para pihak hingga level atas,” jelasnya.

Ditambahkannya bahwa tantangan dari masyarakat pun tak kalah uniknya, namun dengan pendekatan yang baik serta dukungan dari pihak penegak hukum yang kuat maka tak ada yang sulit diatasi. 

TEMUAN LAINNYA

SInergitas ini membuahkan temuan signifikan lainnya, yaitu kasus meter dalam keadaan tertimbun dengan instalasinya yang tidak sesuai standar yang dilakukan oleh sebuah perusahaan jasa konstruksi di Jakarta Utara.  Perusahaan jasa konstruksi ini kebutuhan airnya mencapai  7,200 m3/hari, Namun, aetra hanya menagih 350 m3/bln, sehingga terjadi kehilangan air sebesar  107,650 m3 setiap bulannya. “Dan itu berlangsung sudah 3 Tahun,” ungkap Junaedi.

 

Meter air yang tertimbun tersebut menggunakan instalasi yang tidak standar yang membuat terjadinya efek balik arus air yang membuat meter air tidak normal. “Untuk mengungkap kasus ini, butuh kejelian dan pengetahuan mekanika fluida.Tanpa keahlian itu tak mungkin kasus ini bisa diungkap,” jelasnya.  

Foto : Tim pemberantasan Ilegal berkoordinasi di lapangan

Aetra juga menemukan sambungan tidak resmi yang dilakukan oleh oknum yang mengaku petugas. Sambungan tak resmi itu mengaliri 24 properti menggunakan pipa sepanjang 500 m. Aetra menyita pipa tersebut serta beberapa pompa untuk barang bukti.  Ini merupakan sinergitas Aetra dengan masyarakat dalam mengungkap dan menangkap oknum berhasil menyeret oknum hingga ke meja hijau

Foto : Barang bukti aktivitas sambungan illegal dan warga yang menjadi korban

Aetra juga telah menemukan aktivitas illegal pada pelanggan pemilik rumah kontrakan  dengan 134 pintu kontrakan dan 10 toko. Property ini menyedot air tanpa meter air dengan pipa pvc 755 mm dengan kerugian kehilangan air diperkirakan sebesar 189.024 m3. Dan selain itu juga  menemukan temuan pelanggan pemilik kos-kosan lainnya yang juga melanggar, yaitu di kawasan Ancol Selatan. Pelanggan ini memiliki 23 pintu rumah kontrakan, usaha pemotongan dan pencucian ayam terbesar di kawasan ini.  Penyisiran dilanjutkan hingga menjangkau 856 properti di lokasi juga ditemukan 22  Pelanggaran konsumsi tidak resmi dan di denda sesuai ketentuan yang berlaku

ANCAMAN FISIK

Foto : Aktivitas pemberantasan Ilegal di kawasan Ancol  

Sepanjang tiga tahun terakhir aktivitas illegal  dilakukan oleh beragam pelanggan, baik dilakukan oleh industri, pelanggan meter hidran/Master Meter, pelanggan pemilik usaha kos-kosan hingga pelanggan rumah tangga biasa.   tidak sedikit aktivitas illegal itu melibatkan oknum. “Ancaman fisik hal yang niscaya terjadi di lapangan akibat pelanggaran hukum dalam pengguanaan air perpipaan tidak sedikit dilindungi oleh  berbagai oknum yang mengatasnamakan pihak lain” ujar Danny Leonardo, yang dibenarkan oleh Junaedi  .

Dalam sebuah aksi pemberantasan illegal, Aetra melakukan pemutusan sambungan air pada salah satu ex-pelanggan hidran umum. Ia tidak menyelesaikan kasus pelanggaran pendistribusian air ke luar area rumahnya yang terjadi sejak tahun 2013. Niat Aetra untuk pemutusan ini mendapat tentangan keras bergaya premanisme, Namun, akhirnya pemutusan tersebut berhasil dilakukan.

Itu sekedar contoh, ujar Danny Leonardo, seraya menambahkan,  “ Ditongkrongi di depan kantor sampai karyawan kami ngantor ke kantor cabang yang lain juga terjadi, sebagaimana juga disandera. Namun, itu tak menyurutkan langkah kami,” tambah  Danny Leonardo. Lagi-lagi  dibenarkan oleh Junaedi Tamam.

Selanjutnya Junaedi berharap agar untuk ke depannya ada kerjasama dengan Penyidik POLRI dalam rangka pemberantasan illegal di lapangan sekaligus proses hukum, saat ini Aetra hanya di dampingi oleh Brimob ,” jelasnya***